Musik Etnis (Betawi), Tak Harus Mengalah pada Modernisasi

“Bermain musik dan bernyanyi banyak mewarnai penelitian saya di Jakarta. Bagi saya, tampil bermain musik menjadi kunci dalam belajar,” kata wanita yang sudah berlatih dan mahir bermain musik jazz sejak kecil di konservatorium (sekolah musik) New England, Virginia ini. Dia juga banyak belajar dan memainkan musik etnis Arab sejak 1985.

Setiap berkunjung ke Jakarta, aktivis Society for Ethnomusicology and the Middle East Studies Association ini selalu diundang untuk tampil bermain musik, terutama alat musik gambus qanun dan ‘ud (semacam gitar dan kecapi Arab) di berbagai lokasi pertunjukan musik etnis seperti di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Auditorium Universitas Islam Negeri (UNJ) dan Aula IIQ, Ciputat, Jakarta Selatan.

Selain ikut pentas, di GKJ Anne juga kerap menyaksikan penampilan anak-anak muda Betawi yang ´unjuk kebolehan´ musik etnisnya. Dalam hal ini, Anne lebih menyukai tampilan musik etnis tidak dicampuri alat-alat musik modern semisal MIDI dan keyboard. “Biarkan musik etnis tampil apa adanya. Sehingga dia bisa memanggil ruh masa lalu untuk menghadirkannya ke masa kini. Dengan itu, kita bisa menikmati dinamika sejarah,” nasihat Etnomusikolog yang mengikuti jejak Cendekiawan Senior Fulbright, Vincent Mc Dermott ini. Mc Dermott adalah musikus etnik dunia yang banyak memperkenalkan seni musik Jawa (gamelan) di Amerika.

Seharusnya, tutur Profesor yang menyelesaikan S1 di Universitas Northwestern ini, musik Betawi yang semula hanya sebagai iringan untuk sebuah upacara adat dan berbagai acara seremonial lainnya diharapkan nantinya bisa menjadi musik yang lebih memasyarakat dan mendunia.

Misal, lanjut Anne, di tempat lain industri musik dan lagu daerah mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat. Perasaan cinta dan bangga dengan lagu bernuansa kedaerahan sangat terasa di sejumlah daerah di Indonesia. Ada campursari, pop Sunda, Bali, Manado, Batak, dan lain-lain. “Tapi, apakah ini jawaban dari kejenuhan musik dan lagu produksi Ibukota? ternyata bukan. Ini karena kreativitas dari seniman daerah yang tumbuh dengan pesat karena didukung iklim yang cukup baik, seperti tersedianya peralatan musik, peralatan rekaman, dan pembuatan videoklip, sebagai bagian yang tak terpisah dari mata rantai proses produksi,” ungkap Dekan Musik dan Etnomusikologi dan sekaligus Direktur Musik Ensambel Timur Tengah, Akademi Musik William and Mary ini.

Dan yang paling penting, imbuh anggota organisasi etnomusikolog Society for Ethnomusicology and the Middle East Studies Association ini, pasar yang ada cukup prospektif serta belum mencapai titik jenuh. “Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai kalangan yang terlibat. Sehingga, musik dan lagu daerah bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” ucap Profesor yang mulai mengajar di Akademi Musik William and Mary sejak 1993. Dia juga menjadi dosen etnomusikologi dan musik Timur Tengah di Oberlin College dan Universitas Texas, Austin (AS). Selain itu, si jenius yang menyabet dua gelar Master (S2) sekaligus dari Universitas Denver (AS) dan Universitas Sorbonne, Paris (Perancis) ini juga membuka privat etnomusikologi dan kajian antropologi musik berbagai kebudayaan dunia semisal musik etnis Amerika dan disiplin musikologi.

Apalagi, tambah lulusan S3 (1992) etnomusikologi Universitas California, Los Angeles ini, bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari memberi andil cukup besar dalam menyukseskan musik dan lagu daerah di pasaran, sesuai segmentasi pemakai bahasa daerah tersebut. “Jika diproduksi dengan baik, tidak tertutup kemungkinan orang yang bukan pemakai bahasa daerah tersebut akan ikut menikmati dan menggemarinya,” kata bule keturunan Denmark yang mahir berbahasa Perancis ini.

Menurut editor buku musik etnis populer Musics of Multicultural America: A Study of Twelve Musical Communities (1997) ini, media suara seperti stasiun radio sangat berperan terhadap kesuksesan musik dan lagu daerah. Karena, stasiun radio menjadikan musik dan lagu daerah menjadi andalan, dan menduduki rating tertinggi di setiap daerahnya. Ini secara otomatis menjadi lahan untuk meraup kue iklan yang cukup besar nilai rupiahnya. Maka, yang menjadikan nama seorang seniman menjadi besar secara tak langsung adalah media massa, tak terkecuali stasiun radio. Untuk Jakarta, barangkali sosialisasi musik daerah (Betawi) ini telah sukses dilakukan Bens Radio yang membangun studionya di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan.

Ada beberapa jenis musik Betawi yang populer di Ibukota. Diantaranya rebana, ini adalah alat musik berkulit yang bernafaskan Islam yang digunakan sebagai sarana upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pernikahan, khitanan, kenduri dan sebagainya. Di samping orkes gambus, musik Betawi yang menunjukkan adanya pengaruh Timur Tengah adalah berbagai jenis orkes rebana. Berdasarkan alatnya, sumber syair yang dibawakan dan latar belakang sosial pendukungnya, rebana Betawi terdiri dari bermacam-macam jenis dan nama, seperti rebana ngarak, rebana dor, dan rebana biang. Sebutan rebana ketrimping, mungkin, karena adanya tiga pasang ´kerincingan´, yakni semacam krecek. Rebana ngarak digunakan untuk mengarak pengantin pria menuju rumah pengantin wanita.

Selain itu, ada juga Keroncong Tugu. Sesuai dengan sebutannya merupakan orkes keroncong khas Kampung Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Menurut sejarahnya, penduduk kampung itu menganggap dirinya adalah keturunan orang Portugis. Nama-nama mereka, sampai sekarang banyak yang masih menggunakan nama Portugis. Ada tiga hal yang bertahan dalam tradisi keroncong tugu, yaitu alat musik, lagu-lagu (repertoar), dan kostum pemainnya. Alat musiknya tetap seperti tiga abad yang lalu, yakni keroncong, biola, okulele, banyo, gitar, rebana, kempul dan sello. Lagu-lagu yang tidak pernah ditinggalkan adalah lagu-lagu lama, Kaparinyo, Moresco, dan lagu-lagu stambul Betawi.(www.beritajakarta.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s