Tak Seindah Gadis Betawi

Karena terlalu sering nonton sinetron Betawi dengan bintang-bintang cantiknya, seorang kawan saya punya obsesi untuk menyunting seorang gadis Betawi. Setelah melempar jaring ke semua penjuru angin, akhirnya ia dapatkan juga seorang gadis asli Betawi sebut saja namanya Ifah berpostur tinggi semampai, dan wajahnya bisa disejajarkan dengan Nova Eliza- pemeran Jamilah dalam sinetron Betawi Jamilah Binti Selangit.

Tetapi, kawan saya itu kaget ketika bertandang ke rumah orang tua sang gadis. Rumah mereka hanya sepetak kecil di gang sempit di kawasan Cileduk, Tangerang. Sementara, sang ayah harus berjibaku menjadi penjual tanaman hias di pinggir Jalan TB Simatupang, dan sang ibu terpaksa menjadi pembantu rumah tangga di sebuah perumahan elit tak jauh dari rumahnya. Sedangkan Ifah, selain menjadi mahasiswi sebuah PTS, juga menjalani hidup sebagai penyanyi dangdut di panggung-panggung hajatan untuk menambah uang saku dan biaya sekolah adik-adiknya.

Nasib kebanyakan warga Betawi memang tidak seindah wajah gadis-gadis mereka dalam sinetron. Kehidupan sehari-hari mereka kini juga tidak seromantis kehidupan Betawi dalam imaji para penulis skenario dan sutradara sinema-sinema Betawi, yang umumnya menggambarkan masyarakat Betawi dalam kekentalan kulturnya. Keluarga Ifah hanyalah salah satu contoh keluarga Betawi yang ‘terpinggirkan’ di kampung halamannya sendiri. Seperti juga banyak keluarga Betawi yang lain, mereka lahir dan dibesarkan di tanah Betawi (Jakarta) tapi tidak lagi memiliki tanah Betawi, karena telah dijual kepada para urban (pendatang).

Akibat rendahnya rata-rata kualitas SDM dan kurangnya militansi mereka, warga Betawi tidak hanya terpinggirkan secara geografis, tapi juga secara ekonomi, sosial, politik dan budaya. Ibaratnya, kalau kita hendak mencari budaya Betawi di Jakarta, layaknya mencari seuntai kalung di tengah belukar yang begitu lebat. Ondel-ondel telah lenyap di belukar peradaban Jakarta dan hanya sesekali muncul dalam sosok pengamen dari pintu ke pintu. Begitu juga lenong, tinggal hidup di pinggiran dan sesekali muncul di layar televisi. Sedangkan yang mendominasi kampung halaman orang Betawi (Jakarta) saat ini adalah budaya metropolis, urban-industrial, yang serba gemerlap dan sekuler, serta sama sekali tidak menampakkan kearifan budaya Betawi yang religius dan egaliter.

Dalam realitas yang terpinggirkan itulah kemudian Betawi seperti menemukan lahan untuk bereinkarnasi di layar televisi. Dimulai dari Si Doel Anak Sekolahan yang sukses di layar kaca dengan empat seri dan ratusan episod, dan Lenong Bocah dalam puluhan episod di TPI, wajah Betawi yang terpinggirkan dalam realitas seperti lahir kembali di layar kaca. Ratusan sinetron Betawi pun digarap dan ditayangkan berbagai stasiun televisi, menjadi komoditas hiburan yang laris dan rata-rata berating tinggi. Bintang-bintang sinetron Betawi pun berlahiran, sejak Rano Karno sampai Mandra, sejak ‘si Emak’ Nani Wijaya sampai Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi dan Nova Eliza. Mereka, juga para produsernya, menangguk popularitas dan rejeki melimpah dari sinetron Betawi.

Tetapi, keindahan dan keberkahan itu agaknya tidak terjadi dalam kehidupan masyarakat Betawi yang sesungguhnya. Di layar kaca, Si Doel memang sukses membela citra orang Betawi, yang semula mendapat stigma sebagai terbelakang dan ‘kurang makan sekolahan’ menjadi terpelajar dan sukses dalam karir. Tetapi, pembelaan Si Doel itu tidak cukup mengubah nasib masyarakat Betawi yang tetap saja terpinggirkan secara politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta tetap terkesan terbelakang.

Di luar sinetron, para pecinta budaya Betawi, seperti Benyamin S dan Ridwan Saidi, juga melakukan pembelaan yang tidak kalah gigihnya. Tetapi, kekuatan perubahan dalam proses urbanisasi di tanah Betawi tidak gampang disiasati begitu saja. Bahkan, untuk memiliki Pusat Budaya Betawi saja mereka belum berhasil. Sementara, situs Betawi di Condet ‘tergusur’ dan situs penggantinya di Situ Babakan juga kurang tergarap. Orang-orang daerah yang berwisata ke Jakarta, misalnya, saat ini selain sulit menonton pertunjukan seni Betawi, juga susah untuk menemukan oleh-oleh khas Betawi, baik berupa makanan kemasan maupun cenderamata.

Setelah agak surut pasca-Si Doel, belakangan sinetron Betawi juga marak lagi di televisi. Sebuta saja, misalnya, Julia Jadi Anak Gedongan, Kecil-kecil Jadi Manten, Bule Betawi, Jamilah Binti Selangit, dan Duk Duk Mong. Ratingnya rata-rata juga cukup tinggi. Seri sinetron Betawi, Bajay Bajuri, dengan bintang Nani Wijaya (Emak), Mat Solar (Bajuri), dan Oneng (Rieke Diah Pitaloka), juga menuai sukses sampai ratusan episod. Betawi seperti kembali menemukan reinkarnasinya di layar kaca.

Tapi, lagi-lagi, keindahan dan romantisme Betawi itu hanya ada dalam sinetron, sehingga keberkahannya hanya dapat dinikmati oleh para bintang dan produsernya. Kearifan dan kemurahan hati masyarakat Betawi, dengan karakter bahasa dan perilakunya yang sering jenaka, agaknya lebih memberi berkah kepada para bintang dan pebisnis sinetron, daripada warganya sendiri. (Ahmadun Yosi Herfanda
Wartawan dan pengamat mediaRepublika, Minggu, 08 Mei 2005)

One thought on “Tak Seindah Gadis Betawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s