Ali Sadikin, Empu Peradaban Kota

Sebuah acara yang menggarisbawahi pentingnya dikaji dan dikembangkan yang disebut peradaban kota. Acara berupa pemberian gelar ”Empu Peradaban Kota” untuk Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.
Mengapa Ali Sadikin? Kita simak pemikiran yang melihat jauh ke depan ini.
”Masalah Jakarta diwarnai masalah manusia beserta segala nilai, persepsi, harapan, dan kebutuhannya … [karena itu] pembangunan di Jakarta saya pikir harus diletakkan dalam pengadaan dan pelayanan kebutuhan-kebutuhan terpokok penduduk kota … [membangun Jakarta] tak bisa lain dari pada memancangkan panji-panji pembaharuan dan modernisasi … Jakarta tidak dapat menghindarkan diri dari peranannya sebagai pelopor pembaharuan … melakukan perubahan dan perombakan … Masyarakat Jakarta pun [perlu] dirangsang berani mengembangkan pikiran-pikiran baru.”

Begitulah Ali Sadikin melihat Jakarta 40 tahun yang lalu, ketika ia diangkat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 1966. Pikiran itulah yang melahirkan ”pembangunan Jakarta” yang menghasilkan bukan saja jalan dan jembatan penyeberangan, pasar dan bangunan sekolah, pohon dan puskesmas, melainkan juga Lembaga Bantuan Hukum, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Kadin Jaya, Dewan Kesenian Jakarta serta Institut Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki dan Akademi Jakarta, Sinematek, Lembaga Kebudayaan Betawi, Kebon Binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol dan beberapa lagi.
Hal-hal itu terkait erat dengan yang dikatakannya sebagai ”kebutuhan penduduk kota”.

Sebutan Bang Ali
Mengingat hal tersebut, IKJ berinisiatif memberikan penghargaan kepada Ali Sadikin sebagai ”Empu Peradaban Kota”. Dalam hal ini IKJ tak sendiri. Sejumlah orang diminta menulis kesaksian bagaimana Bang Ali (sebutan yang diusulkan oleh wartawan Rosihan Anwar dan diterima dan dipakai hingga sekarang untuk sebutan Gubernur Jakarta) mengubah Kampung Besar Jakarta menjadi Metropolitan.

Wartawan Aristides Katoppo menceritakan awal mula penghijauan Jakarta: program menamam sejuta pohon. Arief Budiman mengisahkan pribadi seorang Gubernur yang mau mendengarkan dan berani berubah. Adnan Buyung Nasution mengingat-ingat kembali awal terbentuknya Lembaga Bantuan Hukum.
Misbach Yusa Biran menceritakan arsip perfilman Sinematek yang oleh Bang Ali dilafal sebagai ”simelatek”. Christianto Wibisono menyinggung sekilas pembentukan Dewan Kesenian Jakarta dan iklim kebebasan kreatif dibentuk.

Di zaman Bang Ali jugalah kata ”Betawi” dihidupkan dan menjadi kebanggaan–bila sebelumnya selalu disebutkan ”masyarakat Jakarta asli” kemudian dengan bangga kita katakan ”masyarakat Betawi,” begitu tuturan Yasmine Zaki Shahab.
Lalu kisah eksklusif dari dalam ruang rapat gubernuran: bagaimana Gubernur baru mendisiplikan karyawan Pemda DKI Jakarta. Inilah cerita dari Soetjipto Wirosardjono, orang Badan Pusat Statistik (BPS) yang pernah menjadi ”orang dalam” di Pemda DKI Jakarta.
Dan sejumlah kesaksikan lagi: dari generasi muda yang lahir dari gelanggang remaja yang didirikan Ali Sadikin di lima wilayah Jakarta, antara lain Yudhistira dan Deddy Mizwar; Putu Wijaya, teaterwan; Eryudhawan, arsitek; Tuty Heraty Noerhadi, anggota Akademi Jakarta; Dan Marco Kusumawijaya, arsitek.

Percaya Diri
Ali Sadikin juga membuktikan kalau mau orang Indonesia punya kemampuan membangun masa depan. Tulis (almarhum) Mochtar Lubis tentang Ali sadikin: ”Yang terpenting bukan hasil pembangunan Ali Sadikin yang bisa dilihat, tapi hasil yang lain, yang lebih besar, yang tak terlihat: ia menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang penuh dedikasi dan tanggung jawab orang Indonesia bisa menolong diri sendiri.
Ia meningkatkan taraf hidup di Jakarta bukan dengan bantuan asing, tapi dengan imajinasi dan kepemimpinannya.” Atau simak pidato Goenawan Mohamad dalam peresmian anggota Akademi Jakarta 2002: ”Ali Sadikin-lah yang berhasil membuat kota ini percaya kepada dirinya sendiri.
Di bawah kepemimpinannya, Jakarta mengatasi lethargy yang menahun, mengatasi suasana lembek dan lamban, mengatasi sikap syak akan perubahan. Berangsur-angsur, kota ini mengatasi sikap curiga kepada pelbagai hal yang baru, dan melawan sikap pasrah yang menganggap yang buruk tidak akan bisa diubah menjadi baik.”
Karena itu pemberian gelar ”Empu Peradaban Kota” ini sekaligus juga untuk mengingatkan, di tengah berbagai keluhan —dari biaya hidup yang makin mahal dan pemberantasan korupsi yang belum tegas benar. Copyright © Sinar Harapan 2003

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s