Dodol, Rengginang dan Ihya Ulumudin

Dodol, Rengginang dan Ihya Ulumudin

Setiap menghadapi lebaran, saya selalu teringat tiga kata itu: dodol, rengginang, dan Ihya Ulumuddin. Dodol dan rengginang sudah banyak diketahui orang. Buat orang Betawi, ini adalah dua jenis makanan wajib yang harus ada pada setiap lebaran. Setiap menjelang lebaran, orang-orang tua Betawi terbiasa dengan tradisi mengaduk dodol. Umumnya dilakukan dalam panci besar dengan paling tidak dua atau tiga orang yang mengaduknya. Tidak boleh ada kata-kata sembarangan yang keluar selama mengaduk dodol, karena menurut kepercayaan, dodol bisa gagal jika ada yang salah ngomong.

Begitu juga, rengginang adalah panganan ringan yang sudah sangat mentradisi dalam masyarakat Betawi. Rengginang adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari nasi kering yang dipadatkan dan kemudian digoreng. Rasanya renyah dan gurih. Jika dodol mewakili jenis makanan basah dan agak berat, rengginang mewakili makanan kering dan ringan. Dodol bisa mengenyangkan dan nyelab, tapi rengginang bisa bikin ketagihan pemakannya.

Lalu, apa itu Ihya Ulumuddin? Jenis kue apa itu? Tentu saja, tidak ada kue bernama seperti itu. Ihya Ulumuddin bukanlah sejenis kue, bukan pula sejenis makanan. Ia adalah nama sebuah buku, sebuah kitab klasik Islam, yang banyak ditemukan di rumah-rumah orang Betawi, terutama Betawi dari kalangan santri. Ihya Ulumuddin adalah karya Imam al-Ghazali, ulama besar yang hidup sekitar abad ke-11. Imam al-Ghazali sangat termasyhur, bukan hanya di kalangan masyarakat Betawi, tapi juga di kalangan umat Islam secara umum.

Imam al-Ghazali memiliki pengaruh sangat besar bagi kaum Muslim. Pandangan-pandangan keagamaannya diikuti secara luas. Begitu besarnya pengaruh al-Ghazali bagi kaum Muslim, Montgomery Watt, seorang Orientalis asal Inggris, menganggapnya sebagai “manusia paling berpengaruh setelah Nabi Muhammad.” Bagi orang-orang Betawi, al-Ghazali adalah manusia suci, yang sama sucinya dengan para sufi dan wali-wali Allah.

Tapi, apa hubungannya Ihya Ulumuddin dengan dodol dan rengginang? Bagi kebanyakan kaum Muslim, sepertinya tak ada hubungan langsung, tapi bagi sebagian masyarakat Betawi, terutama Betawi santri, hubungan itu jelas sangat erat. Paling tidak inilah yang saya amati setiap kali saya berlebaran ke rumah para kiai Betawi (dulu biasa disebut Mualim). Saya menyaksikan pemandangan unik yang cukup menggelikan. Di lemari-lemari tamu (biasa disebut “lemari pajangan”), dodol dan rengginang kerap mendominasi. Bersebelahan dengannya, hampir selalu ada kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali itu.

Pada mulanya, saya mengira itu pemandangan biasa saja. Tapi, saya perhatikan ada beberapa kiai Betawi yang melakukan hal serupa. Tentu saja, ini bukanlah desain yang dibuat secara sengaja. Orang-orang Betawi, termask kiainya secara umum, bukanlah pengoleksi buku yang rapi. Buku-buku (atau lebih tepatnya kitab-kitab) biasanya diletakkan di lemari pajangan di ruang tamu. Tidak ada ruang khusus untuk baca, karena membaca secara khusus bagi orang Betawi adalah sebuah kemewahan.

Pada hari raya, ruang lemari pajangan biasanya tersita untuk kue-kue lebaran. Untuk menampungnya, sebagian buku dan isi lemari dikurangi. Hanya buku-buku penting dan berwibawa yang tetap berada di sana. Sudah pasti, salah satunya adalah kitab Ihya itu. Mungkin takut kualat dengan kekramatan al-Ghazali, para kiai Betawi lebih suka menyandingkan Ihya Ulumuddin dengan dodol dan rengginang, ketimbang menyimpannya di gudang, meski untuk sementara.

Saya tidak tahu apakah hirarki kue lebaran dan Ihya Ulumuddin hanya ada dalam masyarkat Betawi. Saya belum sempat meneliti budaya-budaya Muslim lainnya di Indonesia. Tapi, boleh jadi pemandangan serupa akan ditemukan, misalnya menjumpai Ihya Ulumuddin bersandingan dengan nastar, wajik, atau kue bolu.

Makanan adalah produk peradaban, begitu juga buku. Ihya Ulumuddin adalah sebuah produk peradaban yang gelisah, peradaban yang curiga, peradaban yang reaksioner. Konon, al-Ghazali menulis kitab itu karena gundah dengan peradaban Islam yang terlalu mewah dan materialistis, terlalu rasional dan helenistis.

Secara literal, Ihya Ulumuddin berarti “menghidupkan ilmu-ilmu agama.” Al-Ghazali menulis ini sebagai reaksi atas kegelisahannya menyaksikan dominasi “ilmu-ilmu rasional,” seperti filsafat, kedokteran, dan astronomi. Pada abad ke-11, pertentangan antara ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu agama memang tengah mencapai puncaknya.

Sebagai pembela Islam (hujjat al-Islam), al-Ghazali merasa bertanggungjawab merespon keadaan itu. Ditulislah kitab Ihya Ulumuddin. Tapi, beberapa abad kemudian, banyak orang yang komplain bahwa kitab inilah penyebab kemunduran kaum Muslim. Karena kitab Ihya-lah, kaum Muslim semakin enggan belajar ilmu-ilmu rasional; dan beralih ke ilmu-ilmu agama dengan segala variannya, termasuk mujarobat dan klenik.

Seperti kitab Ihya, dodol dan rengginang mewakili sebuah peradaban yang gelisah dan reaksioner. Bagi orang Betawi, dodol adalah identitas dan sekaligus simbol perlawanan terhadap dominasi kue-kue modern yang dianggap mewah, artifisial, dan tidak asli.

Saya tidak tahu apakah para kiai Betawi menyadari hubungan “ontologis” antara kue lebaran favorit mereka dengan kitab Ihya. Tapi, bahwa kedua-duanya mewakili peradaban dan semangat yang sama, tampak semakin jelas.

Luthfi Assyaukanie. Warga Betawi dan Dosen di Universitas Paramadina, Jakarta

One thought on “Dodol, Rengginang dan Ihya Ulumudin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s