Thamrin, Tak Cuma Memikirkan Banjir dan Gang Becek

Menyambut ulang tahun kota Jakarta yang ke-480 tahun ini, rasanya elok juga kalau kita ketengahkan kembali profil tokoh pejuang Mohammad Hoesni Thamrin. Perjuangan dan juga pemikiran-pemikiran tokoh asal Betawi ini rasanya masih kontekstual hingga kini.

Thamrin tak cuma memperjuangkan orang Betawi dan lingkungannya, tapi juga membela saudara sebangsanya yang kala itu masih terjajah.

Mohammad Hoesni Thamrin dilahirkan di Sawah Besar, Betawi, 16 Februari 1894. Ia berasal dari keluarga berada. Kakeknya, Ort, orang Inggris, pemilik hotel di bilangan Petojo, yang menikah dengan perempuan Betawi, Noeraini. Ayahnya, Thamrin Mohamad Thabrie, pernah menjadi Wedana Batavia tahun 1908, jabatan tertinggi nomor dua yang terbuka bagi warga pribumi setelah Bupati.

Mat Seni, begitu panggilan akrab Thamrin, dikenal sebagai orang yang mudah bergaul dengan siapa saja dan dari golongan sosial mana pun. Pengalaman masa kecil inilah yang banyak memengaruhi ide-ide politik yang ia lontarkan saat duduk di dewan kota, yaitu ide-ide tentang keberpihakan Thamrin pada rakyat.

Thamrin pernah bekerja di perusahaan perkapalan milik maskapai swasta Belanda bernama Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Di sinilah ia berkenalan dengan Van Der Zee seorang sosialis Belanda yang juga anggota Gemeenteraad (Dewan Kotapraja) Batavia. Perkenalan dengan Van Der Zee inilah yang memberi kesempatan pada Thamrin untuk menyuarakan aspirasinya dengan menjadi anggota di Geementeraad Batavia oada tanggal 29 Oktober 1919.

Di Geementeraad Batavia, Thamrin merupakan figur yang berpihak pada rakyat pribumi. Ia pernah mengatakan: “Tuan kepala, saya duduk dalam Dewan Kota bukan sebagai perwakilan dari K.P.M, tetapi sebagai wakil rakyat Betawi, maka tuan jangan lupa bahwa saya adalah bagian dari rakyat itu.”

Demi kepentingan perjuangan kemerdekaan, atas usul Hoesni Thamrin, pada tahun 1930 dibentuk anggota Dewan Rakyat Bangsa Indonesia yang kemudian diberi nama Fraksi Indonesia di Volksraad (Dewan rakyat). Tujuan Fraksi Indonesia yang dikepalai oleh Mohammad Hoesni Thamrin ini adalah untuk lebih menyatukan langkah perjuangan.

“Toedjoean dari Fraksi Nasional adalah menoentoet kemerdekaan Indonesia, oleh karena kami jakin, hanja dengan kemerdekaan dapat mentjapai masjarakat Indonesia jang sempoerna,” ungkap Thamrin.

Thamrin juga membela didirikannya kantor berita Indonesia serta penggunaan bahasa Indonesia di semua tingkatan pemerintahan, dewan, serta penggunaan resmi kata “Indonesia” dan “bangsa Indonesia”.

“Memoelikan dan memadjoekan bahasa Belanda dan mengasingkan bahasa sendiri lambat laoen membawa keroegian jang poela, biarpoen masa ini beloem terlihat. Bukankah bangsa jang hilang bahasanja moedah akan hilang poela kebangsaanja?” ujar Thamrin kala itu.

Demi kepentingan perjuangan bangsa, Mohammad Hoesni Thamrin kemudian menghibahkan gedung Kenari kepada kaum pergerakan kebangsaan, yaitu organisasi PPPKI (Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia). Beliau kemudian menamakan gedung tersebut Gedung Permufakatan Indonesia.

Adalah Thamrin juga yang sekali lagi memainkan peran utama selama perayaan dan Kongres Indonesia Raja pertama, dan kegiatan seputar penyambutan terhadap kembalinya Soekarno ke arena politik dengan dikuranginya separuh hukuman penjara Soekarno.

Seperti yang dijuluki oleh De Jong; ‘gerakan pribumi menjadi lebih lebih jauh lebih pintar dan benar-banar menggunakan otak’. Dalam kenyataannya Thamrin menyadari ia berada dalam permulaan kehidupan politik dengan posisi pandangan kooperatif dengan usaha keras mendapatkan manfaat politiknya. Aksi semacam itu terlambat disadari Soekarno, sesuai yang diakuinya kepada Thamrin pada tahun 1933, juga oleh Hatta dan Syahrir.

Thamrin dan Soekarno mempunyai banyak makna. Menyebut nama mereka berati belajar dari sejarah temntang kerjasama seorang Thamrin politikus yang bekerja “dari dalam sistem”. Keterlibatan Thamrin dalam semua peristiwa penting yang dialami Soekarno sangan signifikan: dia hadir pada saat Soekarno diadili dan dipenjara. Thamrin hadir saat Soekarno dibuang ke Ende juga memprotes penahanan Soekarno di Volksraad. Sampai pada akhirnya Thamrin dihukum tahanan rumah setelah Soekarno berkunjung ke rumahnya.

Dalam sejarah perjuangan mencapai kemerdekaan, Thamrin untuk selamanya tercatat sebagai tahanan politik yang meninggal di tangan penguasa kolonialisme Belanda. Sebagai sesama pejuang kemerdekaan, hubungan dengan Soekarno juga meninggal sebagai tahanan politik, tetapi juga sebagai tahanan bangsanya sendiri, penguasa kejam rezim miiliterisme Orde Baru.

Saat Thamrin mangkat, sekitar 2000 orang atau lebih rakyat Indonesia menghantarkan jenazah Mohammad Hoesni Thamrin ke pemakaman Karet. Suasana ini menunjukkan bagaimana Mohammad Hoesni Thamrin sangat dihormati dan bahkan dicintai oleh rakyat sebagai seorang pejuang yang gigih membela rakyat Indonesia sampai titik darah penghabisan.

Dalam penghormatan terakhir tersebut hadir berbagai tokoh seperjuangan dengan Mohammad Husni Thamrin. Di antaranya ketua umum Parindra Woerjaningrat, Soekardjo Wirjopranoto, Hoesein Djajadiningrat, dan Marzoeki Mahdi.

Thamrin menukik sampai ke urusan, masalah-masalah kecil. Dia bicara tentang kampung-kampung becek tanpa penerangan dan masalah banjir. Dia menggugat daerah elit Menteng yang dalam pembangunan diprioritaskan segalanya. Dia selalu menjurubicarai kepentingan rakyat kecil. Misalnya tentang pajak dan sewa tanah bagi petani sampai-sampai kepada harga semua komoditi yang dihasilkan oleh rakyat.

“Sejak kecil saya dihadapkan pada kenyataan pahit dalam kehidupan saya: banjir yang menimbulkan kemelaratan dan penyakit. Saya semestinya tidak membiarkan bila emak sahabat saya mencuci beras dalam air yang kecoklat-coklatan,” ungkap Thamrin.

Mohammad Hoesni Thamrin dikenal sangat berani melontarkan pendapat-pendapatnya dan mati-matian membela rakyat. Padahal pada saat itu orang-orang Indonesia yang duduk di Volksraad sangat sedikit. Namun, Thamrin tak pernah gentar menjadi “juru bicara” bagi rakyat kebanyakan. Seperti dikatakannya “Setiap pemimpin harus mendekati kemauan rakyat”, prinsip itulah yang dipegang teguh seorang Thamrin walaupun duduk diparlemen bentukan pemerintah kolonial.

Gedung M.H. Thamrin

Gedung M.H. Thamrin dulunya merupakan gedung yang mempunyai banyak fungsi, terutama untuk pertemuan-pertemuan dari bermacam gerakan perjuangan kemerdekaan. Gedung tersebut pada awalnya merupakan kepunyaan keluarga Thamrin yang pada akhirnya diwariskan untuk negara. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Thamrin menyediakan gedung tersebut sebagai tempat berkumpulnya masyarakat Indonesia guna menyatukan tekad untuk kemerdekaan walaupun berasal dari berbagai golongan dan kelompok politik.

Berbagai pertemuan, deklarasi, dan pergerakan lainnya seperti yang diadakan oleh GAPI, PARINDRA, ‘tuntutan” Indonesia Berparlemen, sampai pertama kalinya dimainkan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh WR Soepratman dilaksanakan di Gedung Permoefakatan, begitu dulunya disebut. Kini gedung yang berada di jalan Kenari no. 15 Jakarta ini merupakan gedung museum M.H. Thamrin.

“Satu hal yang dapat dipastikan bahwa rasa keadilan yang dibangun dewasa ini sangatlah sulit dicari. Kepercayaan terhadap keputusan pengadilan termasuk salah satu sandaran utama negara yang sangat penting, tetapi dengan banyaknya keraguan terhadap kenetralan institusi pengadilan, maka pemerintah akan kehilangan salah satu pilar terkuat untuk memelihara kedaulatan hukum.” (pernyataan Thamrin di Volksraad, 1930-1931) (dari berbagai sumber)

Penulis: Jodhi Yudono/klipingartikel.blogspot.com
Sumber: http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0706/23/033658.htm

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s